About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful.

Senin, 06 Februari 2012

Jadikan Aku Sahabatmu




Ngomongin soal sahabat, nggak kalah serunya ama nonton lega calcio atau bundes-liga . Kita pasti punya segudang cerita yang beda-beda. Kalo dibikin novel, mungkin Kamus Besar Bahasa Indonesia juga kalah tebelnya. Soalnya mereka punya ciri dan karakter sendiri-sendiri. Ada yang jahat, sinis bin jayus, ada juga yang baek van solider. Malah ada yang sering jadi OP alias objek penderita sepanjang masa (kayak Nobita aja!). Orang sastra bilang, friends are the flowers in the garden of the heart ciieee

Saking beragamnya sifat temen-temen kita, pengalaman pahit bersama mereka pun punya tempat dalam diary kita. Bisa jadi karena ada temen yang nggak bisa jaga rahasia atau nggak solider, kita bisa ngambek berhari-hari tuh. Malah sampai ada yang trauma en nggak mau temenan lagi. Jadi kesannya aku banget, egois, individualis, dan antisosial. Seperti penilaian Cinta pada Rangga yang diperankan Nicholas Saputra. Tapi, apa iya kita bisa jalanin hidup tanpa teman atau sahabat?

Padahal ada pepatah hidup tanpa teman, mati pun sendiri . Gak ada yang ngurusin, mandiin, nyolatin, atawa nganterin ke rumah masa depan berbatu nisan. Iih emangnya tikus got apa gak ada yang peduli. Nggaaak..eh, tidaaak!

Enaknya punya sahabat

Percaya nggak percaya, ternyata waktu kita lebih banyak dihabiskan bersama teman yang bikin nyaman perasaan. Bukan cuma sejam-dua jam tapi bisa sampai seharian. Meski orangnya berganti-ganti, tetep statusnya temen. Ada temen maen di rumah, temen sekolah, temen kursus, temen di kost-an, temen nongkrong, sampai temen di dunia maya (bukan Mayasari Bhakti lho! Itu mah bus atuh!) yang biasa gabung dalam komunitas mailing list atau chatting room . Pokoke tiada hari tanpa kehadiran seorang teman. Yes!

Punya temen emang asyik. Mereka yang bikin hidup kita indah, berwarna, dan rasanya serame Nano-Nano . Di mana pun dan kapan pun, kita akan ngerasa kesepian kalo nggak ada temen. Pas lagi ada masalah, mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membantu mencari jalan keluar. Pas lagi bete, mereka ikhlas jadi tempat sampah menampung segala keluh kesah kita. Pas lagi kena musibah, mereka yang meniupkan semangat hidup. Seolah mereka stand by 24 jam untuk membantu kita. Persis petugas pemadam kebakaran.

Pernah denger teman imajinasi' yang biasa dimiliki anak kecil? Itu salah satu bukti kalo siapa pun butuh teman. Saat adik kecil kita nggak punya teman, mereka mencip-takannya dalam imajinasi. Tempat doi bebas ngomong apa aja. Sama kayak kita. Maka nggak usah heran bin merinding kalo ngeliat anak balita ngomong sendiri atau asyik ngobrol ama bonekanya. Kadang mereka cuma perlu orang yang mau dengerin cerita mereka.
Nggak salah dong kalo punya teman itu enak sekaligus kebutuhan. Jadi nggak egois, tapi belajar untuk berbagi. Rugi banget kalo kita nggak punya teman. Masak kalah ama anak kecil... (*ngomporin neh ceritanya)

Berburu sahabat sejati?                     

Sobat muda muslim, kita sering temenan dengan orang lain karena punya kepentingan yang sama. Karena kesamaan hobi, tempat nongkrong, makanan favo-rit, atau tipe lawan jenis. Jadi klop. Ngomong apa pun nyambung.

Karena itulah remaja sering kedapetan mendeklarasikan nama gank -nya. Nggak afdhol kalo sering ngumpul tapi nggak punya identitas. Maka jangan heran ngeliat coretan pylox berwarna bertuliskan nama-nama gank remaja. Biar orang pada kenal.

Ada anak cowok yang tergabung dalam gank anak haram'. Eit.jangan su'udzhon dulu ya. Mereka bukan fans club sinetron yang dibintangi Dhea Ananda lho. Mereka kelompok para pelajar yang biasa nunggu angkot di Halte Ramayana yang disingkat haram'. Wacks? Ada juga lho anak cewek bikin gank bertajuk cicil' (Cewek Imut, Cantik, nan Centil). Kayak kelompok Dina Olivia, Nirina Zubir, dan Maria Agnes dalam 30 Hari Mencari Cinta . Huhuy!

Kalo udah nge-gank, persahabatan seolah udah sampai level sejati. Saling curhat di antara mereka udah jadi keharusan. Teman udah jadi pimpinan klasemen untuk urusan sumber informasi dan biro konsultasi, biasanya konsul seputar lawan jenis, hobi, masalah dengan teman lain, juga masalah dengan keluarga.

Ada juga yang ikut-ikutan gabung ama gank sebagai simbol status. Siapa yang nggak ngerasa bangga bin hebat temenan dengan anak borju, anak basket, cheer leader , anak nongkrong, pelajar preman, atau anak pinter. Adakalanya, para anggotanya kudu unjuk gigi sampai over acting biar sama ama yang laen n tetep diterima. Walah, kirain cuma kacang aja yang lupa ama kulitnya?

Sayangnya, persahabatan karena kesamaan kepentingan atau nyari simbol status kayak gini rawan per-pecahan. Suka ada tekanan dari temen kalo nggak setuju ama yang lainnya. Orang psi-kologi bilang Peer Pressure alias tekanan teman sebaya. Sehingga hard to say no meski itu bertentangan dengan hati nura-ni, norma masya-rakat, dan aturan Islam.
Dari sinilah awalnya remaja mulai kenalan ama narkoba, terlibat tawuran, aksi kriminal, atau seks bebas. Karena takut nggak ditemenin dan nggak punya temen. Mereka nggak bisa terima lagi kalo ada temennya yang insyaf, terus antigaul bebas, apalagi sering ngingetin kelakuan temen lain yang nggak islami. Kalo kejadian, orang insyaf itu bakal dimusuhin. Malah ada yang pake hukuman segala. Dianggap telah melanggar kesepakatan kelompok. Persis kayak persahabatan orang-orang di Barat sono.
Kalo udah kayak gini, cuma persahabatan semu yang ngikutin hawa nafsu yang bakal ditemui. Bukan tempatnya bagi kita yang berburu sahabat sejati. Betul?

Pesahabatan sejati ada dalam Islam

Sobat muda muslim, persahabatan sejati adalah sesuatu yang indah karena ia tidak mudah untuk dilupakan plus tidak mudah untuk diciptakan. Nggak gampang dilupain karena banyak kenangan yang nempel terus di memori otak kita. Sulit diciptakan karena faktanya perlu waktu lama untuk dapetin sahabat sejati. Sheila on Tujuh banget neh!
Kita gampang punya teman, tapi perlu proses yang panjang untuk dapetin seorang sahabat. 

Teman mungkin cuma luarnya aja, tapi sahabat, dalem baaanget. Apalagi di tengah merajalelanya pemikiran dan budaya Barat yang rusak. Tapi kamu jangan takut duluan untuk jalin persahabatan. Siapa pun pantas jadi sahabat kita. Asal kita punya prinsip yang jelas bin shohih dalam berteman. Biar kita bisa jaga diri. Karena temen pengaruhnya gede banget ama diri kita. Sabda Rasulullah: Orang itu mengikuti agama teman dekatnya; karena itu perhatikanlah dengan siapa ia berteman dekat. (HR Tirmidzi)
Nah, sekarang kita udah punya target siapa yang mo dijadiin sahabat. Temenan ama orang-orang yang baik agamanya bakal untung dunia-akhirat. Gimana nggak, dia selalu ngingetin kalo kita khilaf sebagai wujud rasa sayangnya. Kalo ada temen yang diem aja saat kita nggak tahu jalan, padahal di depan ada ju-rang, dia nggak pantas jadi sahabat kita. Betul?

Seorang sahabat nggak cuma bisa ngingetin dan ngasih nasihat doang, ia juga berkewajiban menolong saudaranya sesuai kemampuannya. Hal ini yang banyak dicontohin oleh para sahabat pada peristiwa hijrahnya Ra-sulullah dari Mekkah ke Madinah.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Kitab al-Bidayah jilid 3, halaman 228, bahwa saha-bat Anas ra mence-ritakan, Ketika Abdurrah-man bin Auf ra berhijrah ke Madinah, Ra-sulullah saw. mem-persaudarakannya dengan Sa'ad bin al-Anshari ra. Kemudian Sa'ad berkata kepada Abdurrahman bin Auf, Wahai saudaraku! Aku adalah salah seorang yang kaya di Madinah. Lihatlah! Ini adalah setengah dari harta kekayaanku, ambillah! Aku juga memiliki dua orang istri. Aku akan menceraikan salah seorang di antara mereka yang lebih engkau sukai, sehingga engkau bisa menikah dengannya.' Abdurrahman bin Auf menjawab, Semoga Allah memberkahi keluarga dan kekayaanmu. Tapi, tunjukkan saja kepadaku jalan menuju ke pasar, agar aku dapat mencari peruntunganku dengan kedua tanganku sendiri.'

Bener kan, kalo persahabatan sejati cuma ada dalam Islam. Jadi nggak usah pikir-pikir untuk berburu sahabat sejati di mesjid, majelis taklim atau tempat-tempat pengajian. Karena di sana bercokol orang yang pantas kita jadikan shahabat. Di dunia maupun di akhirat alias di surga. Masak nggak kepengen?

Menjadi sahabat sejati

Sobat muda muslim, kalo buruan' kita nggak dapet-dapet, nggak ada ruginya kita belajar untuk menjadi sahabat sejati buat temen kita. Dengan begitu nggak mustahil kalo sahabat dambaan kita datang dengan sendirinya. Dari teladan Rasulullah dan para shahabat, beberapa hal bisa kita ambil untuk menjadi sahabat sejati.

Biar ikatan persahabatan gak gampang putus, kita kudu sabar. Yakin deh, no bodys perfect . Gak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Namanya juga manusia, tempatnya salah dan lupa. Kalo dia salah, kita selidiki dulu kenapa dia berbuat salah. Bisa jadi lupa atau lagi ada masalah. Jadi lebih obyektif kalo mo ngingetin atau nasihatin. Nggak maen vonis, emangnya hakim. Dengan begitu kita berharap, hal-hal yang bisa bikin rame' kayak salah paham atau nggak menghargai kesalahan temen bisa dikurangi. Kata 

Rasulullah: Jangan saling membenci, jangan saling memusuhi, jangan saling mendengki, dan jangan memu-tus hubungan. Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Tidak diper-bolehkan seorang Muslim memboikot sesamanya selama lebih dari tiga hari. (HR Muslim dan Tirmidzi)

Kepercayaan dalam sebuah persahabatan juga mutlak diperlukan. Temen kita bakal dendam kalo kita jadi ember'. Ngebocorin rahasia atau aibnya. Bukannya kita cuek, tapi cukup kita aja yang tahu, terus ngingetin dan nggak lupa ikut bantu atasi kekurangannya. Sabda Rasul: Siapa saja yang menyembunyikan (aib) seorang muslim, maka Allah akan menyem-bunyikan (aibnya) di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba yang gemar menolong saudaranya. (HR Muslim)

Untuk mengokohkan ikatan persahabatan Rasulullah menganjurkan agar kita saling memberi hadiah atau mengucapkan salam saat bertemu. Tidaklah kalian akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidaklah kalian (benar-benar) beriman hingga kalian (saling) mencintai. Sukakah kalian jika aku tunjukkan sesuatu yang bila kalian lakukan akan membuat kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian . (HR Muslim)

Trus gimana dengan yang nonmuslim? Cukup jadikan mereka sebagai teman. Levelnya bakal naik jadi sahabat sekaligus sodara saat mereka mengucapkan syahadatain. Oke?
So, dalam hidup kita emang kudu punya teman dan sahabat. Kita udah cukup gede untuk berburu sahabat sejati yang bisa menambah keterikatan kita dengan Islam. Mengingatkan kita kepada Allah. Sekaligus menjadi kekuatan untuk melawan pengaruh buruk budaya Barat yang bebas berkeliaran di sekitar kita.

Oya jangan lupa, tetep pake aturan gaul Islam. Cowok temenan ama cowok. Yang cewek juga. Kalo cewek-cowok pengen jadi sahabat sejati, syaratnya kamu kudu berani ungkapin keinginan itu di depan petugas KUA. Lalu dilengkapi mahar, wali temen cewek, plus saksi-saksi. Hehe.. (itu mah namanya nikah dong?)

Oke deh, jangan malas dan malu jadi sahabat baik teman kita. Bisa nunggu, bisa juga kitanya yang duluan jadi baik buat sahabat kita. GImana? Jadi, jalin persahabatan, ting-galkan permusuhan! Siapa tahu nanti banyak yang bilang: Jadikan aku sahabatmu [hafidz]


Sumber :
STUDIA Edisi 184/Tahun ke-5 (1 Maret 2003)  

Gaul, Syar'i, dan Mabda'i


Eh, ikut gaul emang asyik, lho. Coz lewat pergaulan banyak informasi yang kita dapetin. Malah kita juga bisa update informasi yang kita punya. Dari perkembangan teknologi ampe gaya hidup yang lagi trendi. Dari sekadar info selebritis hingga tempat jajanan yang laris. Semuanya lengkap. Dan tentu kita bakal nge-rasa pede dalam bergaul kalo nggak ketinggalan informasi. Nggak jadi kambing congek pas sohib-sohibnya lagi ribut karena nggak nyangka Adit, akademia dari Surabaya bisa tereliminasi. Nggak cuma mupeng liat orang-orang asyik browsing and chatting . Apalagi sampe ke-bingungan pas ketiban rezeki dipinjemin Nokia Comunicator 9210i. Pokoknya, kita nggak bakal dapet julukan pejabat gatek' alias pemuda jaman batu yang gagap teknologi. Hahahaha
Ngomong-ngomong, ada juga lho temen kita yang nggak ngerasa asyik kalo ikut gaul. Iya, katanya doi takut kebawa-bawa ama pengaruh buruk pergaulan. Karena dalam pergaulan kan bukan cuma kecanggihan teknologi, tapi ada juga gaya hidup trendi yang diadopsi dari negerinya Britney Spears. Lebih banyak Having fun daripada manfaatin masa muda. Kalo nggak ngikut, dibilangnya nggak solider. Apalagi ama temen deket. Repot banget kalo kudu nolak ajakannya. Kalo diajak makan sih mending. Nah kalo diajak ngedugem, free sex, narkoba, atawa malak. Gaswat banget kan?

Nah, sobat muda muslim. Ternyata nggak semua remaja doyan gaul. Ada yang mikir mendingan tersisihkan dari pergaulan daripada jadi korban. Pendapat ini nggak salah, karena kita nggak bisa bo'ong kalo remaja yang jadi korban salah gaul makin banyak. Tapi ada juga yang bilang justru remaja kudu gaul biar potensi dirinya berkembang. Ini juga bener. Karena sebagai makhluk sosial, sulit buat kita hidup tanpa orang lain. Lantas gimana dong?

Berikut penuturan seorang psikolog, Bpk. Zainun Mu'tadin, SPsi., MSi tentang remaja . Beliau bilang, remaja sama seperti makhluk hidup lainnya bakal melewati masa penyesuaian diri. Guru biologi kita bilang kemampuan beradaptasi. Seperti yang dilalui burung penguin hingga kulitnya tahan dingin walau nggak pake sweater atau syal.

Gitu juga yang dialami jerapah hingga lehernya panjang biar bisa makan pucuk-pucuk daun. Dalam istilah psikologi, adaptasi itu disebut adjusment . Yaitu suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan tuntutan lingkungan (Davidoff, 1991). Ka-rena itu karakter remaja akan sangat dipenga-ruhi oleh faktor lingkungan tempat doi beradaptasi. Catet yoo!

Nah, ternyata dari sisi teori bergaul emang penting buat remaja. Karena lewat pergaulan, remaja akan dididik secara tidak langsung untuk menyesuaikan sisi pribadi maupun sosialnya dengan lingkungan sekitar. Supaya bisa tetep diakui keberadaannya. Tapi, seperti orang bilang, teori nggak selalu berbanding lurus ama praktiknya di dunia nyata. Makanya kita kudu intip fakta pergaulan remaja biar punya sikap terbaik dalam bergaul. Yuk? Ngikuuut...!

Gaul trend masa kini

Anak gaul nggak boleh amburadul. Prinsip ini yang sering dipegang teguh ama temen-temen remaja sekarang. Bener lho. Penampilan bagi remaja setara dengan harga diri. Buruk penampilan alamat terkucil dari pergaulan. Maka-nya tren penampilan remaja nggak ada matinya. Dari gaya rambut, pakaian, sampe aksesoris semuanya kudu trendi.

Gaya rambut lurus, hitam, bebas ketombe, bebas kutu, bebas pajak, atau bebas parkir jadi impian remaji (remaja putri). Meski rambutnya kriba alias kribo abis, bukan hambatan untuk ikut kontes rambut indah sunsilk . Kalo perlu di- rebonding abis-abisan pake mobil galendong yang biasa ngeratain jalan yang mau diaspal. Untuk urusan pakaian juga sama. Basi bin kuno kalo pakaiannya nggak irit bahan, full press body , atau nggak bikin adre-nalin cowok marathon. Malah nggak sedikit yang mengamalkan lirik lagunya Tata Young yang Sexy, Naughty, Bitchy . Walah!
Anak cowok juga nggak mau ketinggalan. Penampilannya pengen kayak Samuel Rizal atau Nicholas Saputra yang termasuk 11 cowok terseksi dari layar lebar versi tabloid tv remaja, Gaul . Punya kekuatan magnet untuk menarik cewek-cewek kece. Gimana nggak, badan macho, seksi, plus camera face . Tahu kan camera face ? Itu lho tipe wajah yang mirip kamera. Baik yang pake blitz maupun yang nggak. Cocok nongkrong di etalase studio foto bareng kodak (apa kodok neh?). Hehehe.

Gaya rambut yang trendi, pakaian yang seksi, atau badan yang macho belon pas tanpa dilengkapi aksesoris. Topi, kalung, anting, gelang, tas, arloji, ponsel, walkman, atau mp3 player. Semuanya kudu yang paling anyar bin canggih. Nggak boleh ketinggalan juga informasi terbaru seputar tokoh idola, musik, film, atau dunia olahraga. Setelah semua peralatan dan perbekalan seperti di atas udah lengkap, tiba saatnya bagi remaja en remaji untuk unjuk gigi tebar pesona. Di sekolah, kantin, perpustakaan, mal, ang-kot, mikrolet, atau metro mini. Pede banget boo!

Tapi ngomong-ngo-mong, buat apa rem-aja-remaji bela-belain penam-pilannya? Ih. Plis deh.jangan ppo' (pura-pura o'on) gitu dong. Ya tentu untuk menarik perha-tian lawan jenis dong. Soalnya obrolan seputar tips en trik jitu untuk curi pandang cari perhatian dari lawan jenis udah jadi menu wajib remaja di se-tiap kesempa-tan. Kan nggak enak kalo ngedugem, ngeliat konser AFI, nonton Di Sini Ada Setan the Movie, atau ngisi perut paket Hokka Irrito cuma sendiri. Asyiknya ditemenin demenan. Selain ada temen ngobrol, kali aja doi juga bisa nraktir. Matre banget neh! Bukan anak gaul namanya kalo nggak punya hasrat untuk berpacaran atau gaul bebas yang kian tanpa batas. tas tas

Sobat muda muslim, nggak salah kan kalo kita bilang gaul remaja kian hari kian identik dengan gaya hidup hedonis. Gaya hidup yang mengejar kesenangan dunia semata. Materi, popularitas, dan penampilan jadi tujuan utama. Mereka cenderung untuk lebih memilih hidup enak, mewah, dan serba kecukupan tanpa harus bekerja keras. Buat yang banyak doku, bisa aja ngikutin gaya hidup ini. Tapi buat yang kere, bisa-bisa malah ikutan casting artis Patroli, Sergap, atau Tangkap .

Gaya hidup ini juga melahirkan remaja bermental instan. Nggak mau jalanin proses untuk dapetin keinginannya. Yang penting hasil. Kalo ada jalan tikus atau pintu belakang, ngapain juga susah-suah lewat depan yang dijaga satpam en kudu permisi segala. Makanya nggak heran kalo yang ikut audisi AFI dan Indonesian Idol bejibun banget demi status seorang bintang. Udah gitu, mereka juga nggak gitu peduli ama orang lain. Yang penting dirinya sukses dan segala kebutuhannya terpenuhi. EGP (Emang Gue Pikirin alias individualis) banget tuh!

Gaul syar'i tetep trendi

Sobat muda muslim, pasti kita nggak pengen dong dibilang gagap teknologi en minim informasi karena kita jarang gaul. Padahal kita yang punya peran mengembalikan kejayaan Islam dan kaum Muslimin. Bisa-bisa entar malah dianggap asing oleh umat kayak Tarzan tour ke Metropolitan. Memang, pergaulan remaja sekarang udah nggak islami. Tapi bukan berarti kita nggak gaul. Tetep aja ada kewajiban bagi kita untuk memperhatikan kondisi sodara-sodara kita. Lha, nanti kalo jadi korban per-gaulan yang salah gimana?

Nggak usah takut. Karena kita punya Islam. Ya, Islam yang kita pelajari, yakini, amalkan, dan dakwahkan bakal menjadi pelindung kita. Makanya kita sebagai remaja muslim boleh aja ikut trendi pake aksesories. Tapi dengan catatan, cuma terkait dengan hal-hal yang sifatnya mubah. Misalnya perkem-bangan teknologi. Kita nggak diharamkan punya ponsel terbaru yang bisa SMS, EMS, atau MMS plus dilengkapi kamera, radio, atau internet. Malah kita bisa kirim-kiriman sms tausyiah atau tahajjud call at the middle of the night kepada temen kita. Kan lumayan buat tabungan di akhirat.

Dalam berpenampilan pun Islam nggak mengharuskan hambanya untuk kumel, lecek bin dekil. Pokoknya bersih, suci dan diperoleh dari jalan halal. Itu sebabnya, remaja putri boleh pake kerudung bermotif bunga dihiasi renda yang bagian pinggirnya dineci. Tapi tetep kudu rapi sampai menutupi dada, nggak kayak kudung gaul yang amburadul.

Jangan lupakan juga jilbab (pakaian kurung yang longgar, tidak transparan, dan tidak ketat) yang melengkapi kerudung. Model atau desainnya silahkan bervariasi. Apa mau motif bunga, pohon, binatang, pemandangan, perumahan, atau perkotaan. Sesuai selera lah. Kainnya juga boleh ngejreng' dan warna-warni kayak pelangi. Asal jangan tengsin aja kalo ada yang ngatain badut. Sundut terus!

Untuk anak laki juga kemana-mana nggak harus pake peci, sarung, koko plus sendal biar mencirikan muslim. Soalnya setelan kayak gitu lebih mirip anak-anak yang mo ikutan sunatan massal. Sok aja mo pake celana panjang, Levis, Lea, Pantalon, yang dipadukan kemeja atau kaos Dagadu, C59, atau H&R . Asal jangan nggak pake baju or celana aja. Buat anak laki yang punya jenggot, boleh aja dipanjangin. Tapi nggak usah dikepang kayak si Erwin Dr PM. Apalagi sampe dipakein wig atau sanggul. Biar sama-sama rambut tetep aja nggak cocok. Huhuy!
Satu lagi yang kudu kita perhatiin. Kemampuan kita untuk berpenampilan trendi atau kecang-gihan teknologi yang dipunya jangan sampe bikin kita jadi sombong atau arogan. Ingat baik-baik lho sabda Rasulullah saw. seperti ini. BIar kita juga enak gitu lho. Biar ati-ati banget dalam setiap perbuatan kita: Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan ada kesombongan (meski hanya) seberat dzarrah. Lalu seorang sahabat bertanya, ada kalanya seseorang menyukai pakaian yang indah dan sepatu yang bagus. Maka Rasulullah saw. menjawab Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain. ( HR Bukhari ).

Tetep kudu mabda'i

Bener sobat. Meskipun ikut trendi kita tetep kudu mabda'i alias ideologis. Artinya, ketika gaul tentang segala hal, jadikan sebagai informasi pelengkap untuk dianalisis dan kita sampaikan lagi ke orang lain dengan sudut pan-dang Islam. Jadi, kita dan temen-temen nggak mudah tergoda untuk ikutan tren yang nggak bener. Apalagi sampai terjerumus ke dalam pola hidup Barat yang sekuler. Nggak deh!

Makanya kita boleh nyari informasi seputar kehidupan selebritis, film baru yang lagi diputar di twenty one , atau musik yang lagi banyak digandrungi. Biar nggak ketinggalan informasi. Lebih bagus lagi kalo kita juga ngeh' ama tren gaya hidup remaja. Kan aneh kalo kita bilang pacaran itu haram. Sementara kita nggak punya wawasan tentang asal-muasal pacaran, akibat yang ditimbulkan, dan solusi yang ditawarkan. Pokoke kudu komplit biar nggak tulalit. Jangan sampe berbelit-belit!
Gimana caranya biar tetep mabda'i? Ngaji solusinya. Tentu yang dikaji adalah Islam sebagai sebuah ideologi. Islam sebagai sebuah aturan hidup yang bisa memfilter budaya sekular dan ide-ide rusak yang berasal dari Barat. Nggak cuma itu, sebagai sebuah ideologi, Islam juga mampu membimbing kita dalam memecahkan setiap masalah yang dihadapi.

Oya, harus dipahami bahwa dalam kondisi masyarakat yang amburadul seperti sekarang ini, kita harus selektif, Bro. Buat apa tampil gaul kalo harus mengorbankan akidah, iya nggak seh? Mendingan perdalam Islam supaya bisa selamat dunia dan akhirat. Pelajari Islam, pahami sebagai sebuah ideologi.
Perlu kamu catet baik-baik, bahwa Islam nggak pernah kok alergi' dengan yang namanya perkembangan jaman. Welcome aja. Nggak masalah kok. Tapi dengan catatan, perkem-bangan jaman itu wajib sesuai dengan ajaran Islam. Kalo nggak? Ke laut aja deh!
Intinya sih, kamu boleh aja gaul tren, tetep syar'i, juga mabdai. Oke? [hafidz] 


Sumber :
STUDIA Edisi 196/Tahun ke-5 (24 Mei 2004)

Cerdas, Tak Hanya di Atas Kertas


 

Conan Edogawa, detektif cilik nan imut yang hidup dalam dunia fiksi ini dikenal karena kejeniusannya dalam mengungkap kasus-kasus pembunuhan. Karakter yang sama juga terdapat pada Chinmi. Jago kungfu asal Kuil Dairin ini juga mampu menarik minat pembaca komik Kungfu Boy' dengan kecerdasannya dalam mempelajari jurus kungfu yang diuraikan seilmiah mungkin. Dua tokoh fiksi ini memang hidup di dunia komik. Tapi kecerdasannya digilai para penggemarnya di dunia nyata. Jangan-jangan, kamu salah satu fans mereka. Ayo ngaku! (maksa nih ceritanya)

Yup, jadi orang cerdas emang impian. Di sekolah, cerdas identik dengan popularitas. Siswa cerdas pasti tidak akan luput dari perhatian guru dan pihak sekolah. Soalnya siswa model gini jadi aset berharga untuk mengharumkan nama baik sekolah dengan ukiran prestasinya. Meski tampangnya nggak ada bakat fotogenik, temen-temennya sering SKSD alias Sok Kenal Sok Dekat . Selidik punya selidik, ternyata contekan PR menjadi penyebab utama kedekatan temen-temennya itu. Walah?

Tapi cerdas kayak gimana? Ini yang jadi soal. Sebab saat ini, kebanyakan orang menganggap kecerdasan selalu berkaitan dengan intelektual, langganan juara kelas, atau jago ngerjain soal-soal rumit pelajaran Fisika, Matematika, Kimia, atau Biologi. Seolah nggak ada parameter pemaaf, penyabar, empati, suka menolong, suka ngingetin, atau aktivis dakwah pada diri siswa cerdas. Kalo pun ada siswa cerdas yang punya sifat-sifat di atas plus bersuara vokal, hmm....boro-boro dilirik, kayaknya nggak diciduk ama pihak sekolah aja udah untung. Glodaks!

Temukan: Cerdas rasa baru

Untuk mengukur kecerdasan seseorang, biasanya pihak sekolah, militer, atau tempat kerja pake hasil karya Alfred Binet (1857-1911) yang kita kenal dengan istilah IQ alias Intelegencia Quotient (Kecerdasan Intelektual). Tingkat kecerdasan seseorang dinilai berdasarkan skor yang diperolehnya dari jawaban atas soal-soal seputar nalar dan logika untuk mengetes kemampuan intelektualnya.

Akan tetapi, para ahli merasa terlalu sederhana ngukur kecerdasan hanya didasarkan pada nalar, matematika, dan logika yang diterjemahkan dalam nilai IQ. Hal inilah yang mendorong para ilmuwan Eropa merumuskan standar baru untuk menilai kecerdasan seseorang. Maka lahirlah istilah EQ dan SQ yang bersahabat erat dengan IQ. Apaan tuh?

Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional. Penjelasannya, kalo IQ mengangkat fungsi pikiran, maka EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya mensinergikan intelektualnya dengan perasaannya yang manusiawi. Biar nggak jadi sombong bin angkuh van jutek.

Danah Zohar, penggagas istilah teknis SQ (Kecerdasan Spiritual) menuturkan kalo IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ ( spiritual quotient ) menunjuk pada kondisi pusat-diri' ( Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence : 2001). Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. Tolong catet ya.

Nah sobat, inilah rumusan cerdas rasa baru yang lagi in. Kita nggak perlu minder meski IQ kita jongkok atau malah tiarap. Kita tetep bisa tergolong orang cerdas dengan mengedepankan EQ dan menonjolkan SQ dalam keseharian kita. Caranya nggak cuma rajin ngikut kursus atau training yang berkaitan dengan itu, kuatkan juga keinginan kita untuk mengenal Islam lebih dalam. Sebab di sanalah bermuara segala kecerdasan baik intelektual, emosional, maupun spiritual. Beneran lho!

Menjadi cerdas dengan Islam

Menurut Leonardo Da Vinci, kebanyakan manusia menganggurkan anugerah akal yang dimilikinya. Punya mata hanya untuk melihat tetapi tidak untuk memperhatikan, punya perasaan hanya untuk merasakan tetapi tidak untuk menyadari, atau punya telinga hanya untuk mendengar tetapi tidak untuk mendengarkan. Rugi amat ya?
Kondisi ini yang tidak dianjurkan oleh Islam terhadap umatnya. Justru Islam memerintahkan manusia untuk menghargai akalnya. Salah satunya dengan menggunakan akal dalam mengimani keberadaan al-Khalik, Nabi Muhammad saw. sebagai Rasulullah, dan keotentikan al-Quran sebagai kalamullah (ucapan Allah). Agar akidah Islam tidak dibangun atas dasar taklid alias asal ngikut.

Saking pentingnya aktivitas berfikir, para shahabat sampe mengaitkannya dengan keimanan. Mereka berkata: Cahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir ( Ad-Durrul Mantsur , Jilid II, Hlm. 409). Otomatis hal ini mendorong kaum Muslimin untuk mempelajari, memahami, dan mempraktikkan ilmu-ilmu yang mereka tuntut. Baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian sudah seharusnya kecerdasan intelektual dimiliki oleh setiap muslim.

Kecerdasan Emosional boleh dibilang kembaran dengan pembinaan nafsiyah (pola sikap) yang diajarkan Rasulullah saw. Untuk melembutkan perasaan, beliau mengajarkan kita sikap rendah hati, pemalu, atau qonaah . Agar kita nggak merasa angkuh ketika diberi kelebihan atau minder ketika kekurangan. Dalam bersosialisasi, beliau mencontohkan sikap empati, simpati, saling menolong, saling menasihati, saling mengingatkan, atau saling memaafkan dalam rangka menjalin persaudaraan. Sehingga kita nggak mudah melecehkan orang lain karena perbedaaan status ekonomi, pendidikan, atau sosial. Tingginya EQ bagi seorang muslim berarti memiliki akhlakul karimah dan menjadi pengemban dakwah.
Dan terakhir, kecerdasan spiritual (SQ) berarti kesadaran akan pengawasan Allah Swt. dan malaikat Raqib-Atid. Kesadaran ini tidak hanya sebuah wacana. Melainkan sebuah kekuatan yang memotivasinya untuk beramal. Melebihi motivasi yang dilahirkan dari materi, harta, popularitas, gengsi, atau kepintaran. Sebab SQ bagi seorang muslim terkait dengan hari penghisaban yang akan dijalaninya kelak di hari akhirat. Allah Swt. befirman:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS al-Isr [17]: 36)

Sobat, semoga uraian di atas ngasih kamu pencerahan tentang kecerdasan dalam Islam yang khas dengan memasukkan unsur SQ dalam IQ dan EQ. Sebab cuma orang sekuler yang memisahkan kecerdasan intelektual atau kecerdasan emosional yang terpisah dari muatan spiritual. Sehingga kita bisa rumuskan kecerdasan bagi seorang muslim berarti perpaduan antara ISQ dan ESQ. Akur dong? Siip lah! Pokoknya lanjut terus bacanya!

Produk perpaduan ISQ dan ESQ

Sobat, perpaduan ISQ dan ESQ pada masa kejayaan Islam, turut mendorong ilmuwan muslim untuk menghasilkan karya ilmiah yang tercatat dalam tinta emas perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

Di antara mereka adalah Ibnu Khaldun. Dunia mengenalnya sebagai seorang ilmuwan muslim yang gape dalam bidang sosiologi dan ilmu sejarah. Nama lengkapnya Abu Said Abd Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al Hadrami al Ishbili. Beliau populer berkat sebuah buku master piece -nya berjudul Muqaddimah (Pendahulan) yang mengupas tuntas mengenai filsafat sejarah dan sosiologi. Di dalamnya, beliau menggambarkan tanda-tanda kemunduran Islam dan jatuh bangunnya kekhalifahan melalui pengalamannya selama mengembara ke Andalusia dan Afrika utara.

Ada juga Ibnu Haitham. Dialah bapak ilmu optik yang mengurai bagaimana kerja mata mencerna' penampakan suatu obyek. Nama lengkap ilmuwan ini Abu Al Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham. Publik Barat mengenalnya sebagai Alhazen. Penelitiannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains Barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler menciptakan mikroskop serta teleskop. Walaupun menjadi orang terkenal di zamannya, namun Ibnu Haitham tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia dikenal sebagai orang yang miskin materi tapi kaya ilmu pengetahuan.

Sobat, Ibnu Khaldun dan Ibnu Haitham adalah dua dari sekian banyak ilmuwan Islam yang layak kita teladani. Kegigihan mereka menuntut ilmu dan ketekunan mereka berkarya, mencerminkan tingginya motivasi ruhiyah yang tergabung dalam intelektual dan emosional mereka. Ipteknya jago, akhlaknya yahud, kecerdasan spiritualnya juga oke punya.

Melahirkan generasi Multi Cerdas'

Pada akhirnya, kita patut prihatin dengan kurikulum pendidikan negeri kita yang berbasis sekuler. Bisanya cuma menggenjot pelajarnya untuk meningkatkan kecerdasan intelektual. Kecerdasan emosional siswa lambat laun terkikis dengan ditanamkannya materi atau prestasi sebagai tujuan akhir dalam mencari ilmu. Adapun kecerdasan spiritual siswa, nasibnya cukup mengenaskan. Dua jam pelajaran agama dalam seminggu lebih terlihat sebagai formalitas bin pelengkap. Parahnya, muatan pelajaran agamanya juga cuma ngobrolin' seputar ibadah atau bersuci yang nilainya tidak lebih dari hapalan sebelum ulangan dibanding sebuah pemahaman untuk dipraktikkan. Masa' mau kayak gini terus?
Bener sobat, kudu ada upaya teknis dan sistemik untuk membenahi sistem pendidikan negeri kita agar dapat melahirkan generasi multi cerdas. Generasi unggulan yang mampu berbicara tidak hanya dalam sains teknologi, tapi juga dalam sikap serta kesadarannya sebagai seorang muslim. Secara teknis, pendidikan yang memadai sangat diperlukan untuk menggali potensi para pelajar dari sisi intelektual. Terutama dalam penyediaan sarana dan prasarana yang menunjang proses belajar mengajar. Seperti keberadaan laboratorium dengan alat dan bahan praktikum yang lengkap bin komplit.
Untuk mengatasi dekadensi moral yang masuk via media massa cetak dan elektronik, sudah sepantasnya pihak sekolah mengajarkan Islam secara utuh. Tidak membelah ilmu jadi umum dan agama. Agar terpompa kesadaran siswa akan kebesaran al-Khalik saat menekuni ilmu sains teknologi. Sekaligus, menanamkan sikap akhlakul karimah yang membentengi mereka dari pengaruh buruk lingkungan.

Secara sitemik, tentu kita tidak akan berpaling dari peran negara yang besar untuk mewujudkannya. Saatnya negara menyadari kekeliruannya karena telah menjadikan sekularisme sebagai asas dalam membangun sistem pendidikan negeri kita. Lalu menggantinya dengan sistem pendidikan yang tidak hanya menekankan kepada kecerdasan intelektual saja. Akan tetapi mulai menghargai kecerdasan lainnya. Dan sebagai patokan dari semua itu: cuma ISLAM standarnya. Yang lain? Lewaaat! [hafidz]


Sumber :
STUDIA Edisi 236/Tahun ke-6 (21 Maret 2005)